xSeksi

Layanan Berbagi Konten Dewasa yang di Kemas dalam bentuk teks, gambar dan video xxx Seksi

Cerita Seks – Aku, Narsih, dan Mbak Murti

Your Ad Here

Cerita Seks - Aku, Narsih, dan Mbak Murti
Cerita Seks – Aku, Narsih, dan Mbak Murti
Cerita Dewasa 2013 – Cerita Seks Terbaru – Cerita Mesum – Cerita Porno – Foto Telanjang – Gambar Bugil Terbaru

Namaku Damar, 25 tahun, baru lulus Universitas. Sambil menunggu
kesempatan untuk dapat mulai bekerja, sekarang aku meneruskan program
S-2 di Universitas yang sama. Sampai saat ini aku belum punya pacar,
meskipun teman wanitaku cukup banyak, dan pergaulanku dengan mereka
termasuk kategori ‘biasa-biasa’ saja.

Sejak lulus SMA di Jawa Tengah, aku tinggal dengan Pak De di kawasan
perumahan eksklusif di kawasan Jakarta Selatan. Pak De dan Bu De, yang
menyayangiku adalah ‘pasutri’ yang sangat sibuk dengan kegiatan bisnis
dan sosial mereka masing-masing. Berusia 60-an, mereka berdua adalah
cerminan kaum feodal Jawa yang masih sangat konservatif. Ketiga orang
anak-anak mereka sudah berumah tangga dan semua tinggal di luar negeri.
Ini membuatku jadi seolah seorang pangeran yang kesepian, dan sebagai
seorang introvert. Aku banyak menghabiskan waktu di puri yang megah
namun kosong ini.

Salah satu dari berbagai kesukaanku adalah menonton film hardcore di
home theater, tentu ketika Ndoro-ndoro itu tidak sedang di rumah.
Terkadang ketika aku tidak dapat lagi menahan gejolak birahi, maka aku
‘melepas’-nya dengan bermasturbasi di kursi kegemaran Pak De. (Aku tidak
pernah lupa menyediakan sekotak tissue di dekatku.)

/NARSIH/

Pembantu Rumah Tangga (PRT) kepercayaan Bu De. Dari 3 orang PRT disitu,
hanya dia lah yang diperbolehkan masuk ke ‘ruangan dalam’ untuk
membersihkannya. Berkulit mulus layaknya mojang Priangan, janda menawan
beranak satu asal Sukabumi ini menurut perkiraanku berumur 30-an.
Seringkali tubuhnya yang sintal dan terawat baik itu mengisi ‘laporan’
(lamunan porno)-ku. Hanya karena pengaruh ajaran keluarga, yang dengan
tegas menganut perbedaan ‘kelas’ (antara majikan dan pembantu), yang
masih bisa mencegahku untuk ‘mendekatinya’.

Satu kejadian yang sangat memalukan tapi sekaligus mendebarkan terjadi
ketika aku sedang bermasturbasi sambil menonton adegan lesbian
favoritku. Di saat aku sedang orgasme, maniku bermuncratan, dan aku
mengerang dalam nikmat, masuklah Narsih.
“Eh, ada Aden disini, kirain teh kosong, sayah cuma mau bersihin kok.
Punten nya’, nanti aja kalau Aden udah selesai, sayah balik lagi.”
Aku yakin bahwa sebenarnya, tanpa sepengetauanku, dia sudah cukup lama
ikut menonton bermacam adegan, dan mengamati dari awal permainan soloku.

Sejak peristiwa itu aku bertekad untuk membalas dendam dengan cara
mengintip ketika dia sedang mandi, atau berganti pakaian di kamarnya.
Suatu ketika aku bahkan pernah melihatnya sedang bermasturbasi, meremasi
payudara dan memelintir puting-putingnya, jari-jarinya yang lentik
mempermainkan klitoris, dan keluar-masuk vulva-nya. Sampai akhirnya dia
merintih, mengerang dalam klimaksnya. Dan aku pun ‘menemani’-nya dalam
orgasme dari kejauhan. (Aku selalu membawa beberapa lembar tissue di
kantongku saat mengintip Narsih.)

/MBAK MURTI/

Bu Murti, istri pengusaha sukses ini tinggal hanya berselang 3 rumah
jauhnya. Perbedaan umur yang cukup jauh tampaknya bukan penghalang dalam
menjalin persahabatannya dengan Bu De, sehingga dia sudah terbiasa dan
leluasa bergerak di rumah kami. Sejak pertama diperkenalkan kepadanya,
aku tidak pernah berhenti mengaguminya. Ibu dari 2 anak ABG, yang sangat
paham merawat kecantikan dan tubuhnya ini seringkali kuajak ‘kencan’
dalam fantasi liarku. Semula Bu De mengharuskan aku menyapanya dengan
“Bu”, tapi suatu kali justru Mbak Murti yang menegaskannya sendiri.
“Mbakyu, Dik Damar dan saya ‘kan hanya terpaut beberapa tahun saja, dia
masih pantas menjadi ‘adik’ saya.” katanya waktu itu. (Ooh.., terima
kasih Mbak Murti.)

/TIGA-SERANGKAI/

Suatu waktu Pak De dan Bu De bepergian cukup lama ke luar negri menengok
cucu-cucunya. Siang hari itu aku sedang asyik dengan menonton film XX
kegemaranku, dan bersiap untuk bermain solo. Tiba-tiba ketika aku sedang
bersiap melepas celana, entah sudah berapa lama dia mengamati
‘kesibukan’-ku, di sampingku berdiri Mbak Murti.

Dalam pakaian tennis (gaun sangat pendek dan t-shirt ketat) dia
menampakkan kemolekan lekuk tubuhnya. Dan tanpa basa-basi lagi dia
berlutut di depanku.
“Sini Damar, biar saya bantu.”
Dengan sangat santun dan ramah dia mengatakan bahwa dia dapat memahami
keadaanku, dan dalam suara yang mulai serak dia masih sempat memuji
bahwa aku adalah anak muda yang baik karena ternyata lebih memilih
swalayan daripada jajan ataupun bermain sex bebas.

Selanjutnya, tanpa berkata sepatah pun, kedua tangannya dengan leluasa
mulai melepas bajuku. Bibirnya yang sering aku khayalkan menciumiku
mulai menjelajahi leher, telinga dan dadaku, lidahnya juga seakan tak
mau kalah beraksi. Aku semakin tenggelam dalam kolam kenikmatan waktu
Mbak Murti menjilat, mengecup, dan menggigit kecil puting dadaku.
Jemarinya mulai mengelus penisku, sekejap kemudian, dalam satu gerakan
yang sangat cepat, dilepasnya celanaku, dan aku yang tak berdaya telah
telanjang, duduk di kursi Pak De. Mbak Murti semakin tak terkendali,
darah semakin mengalir deras ke penisku, keras-panjang-tegak-menantang.

“Aaahh..!” desah panjang Mbak Murti, nafasnya yang panas terasa sangat
dekat di sekitar bawah perutku, penisku yang telah dalam genggamannya
tak dilepasnya lagi.
“Oohh.., Mbaak..!” terucap dari mulutku saat dia mendaratkan lidahnya di
‘leher’ penisku.
Disitu dia memutar dan memainkan lidahnya, aku tak dapat menahan
keluarnya cairan kentalku.
“Mmm.., Damar..!” dan dengan tatap kagum pada penisku (panjang 18 cm,
lingkar 5 cm) dijilatinya protein yang mengalir dari tubuhku itu.
Satu tangan Mbak Murti mulai menggenggam dan meremas lembut, lalu
lidahnya berpindah menjilati setiap milimeter kantong bijiku. Di
‘ambil’-nya bijiku dengan bibirnya, lalu dikulum dalam mulut, seakan
ingin ditelannya.

Dia melihat juice mengalir lagi dari ujung penisku, tanpa membuang waktu
sedetik pun dikatupkannya kedua bibirnya pada mahkotaku. Inilah oral
sex-ku yang pertama. Terus perlahan dia berusaha memasukkan seluruh
penisku ke dalam mulutnya, bibir dan lidahnya seakan berlomba,
naik-turun-naik-turun menelusuri penisku. Aku tidak sedang berkhayal,
badanku terasa ringan serasa melayang tinggi saat dia tersengal
megatakan, “Masih tahan Damar..? Tunggu saya ya, plee..ase..!”

Mbak Murti bangkit, seperti kesurupan dia tanggalkan seluruh pakaiannya,
dan dengan gaya yang sangat binal dia baringkan tubuhnya di selembar
kulit domba New Zealand yang terhampar di lantai.
“Damar, kamu tau apa yang harus kamu lakukan..” katanya, dan tiba-tiba
aku bukan lagi jejaka pemalu.
Seluruh ingatanku (dari ‘pelajaran’ di film) kukerahkan. Aku seolah
menjelma menjadi cowboy yang sedang bersiap menundukkan kuda betina yang
sedang birahi ini. Tak ada waktu lagi menciumi bibirnya yang merekah dan
merangsang. Kuraih payudaranya, aku sempat melirik BH-nya yang berukuran
34C, dan tak kulepaskan. Kedua putingnya yang meregang kupelintir pelan
sampai dia mengerang dalam kenikmatan. Kujilati, kulum, dan hisap
keduanya tanpa ampun.

Sekejap dengan sigapnya dia menyergap kepalaku dan, tanpa berkata
apapun, mengarahkannya ke bawah perutnya. Aku ragu sejenak, tapi sudah
cukup aku melihat bagaimana lelaki pun ternyata dapat memberikan
cunnilingus, dan sekaligus menikmatinya. Dengan rakus aku melahap apa
yang ada di hadapanku, klitorisnya yang telah mencuat tampak mengkilat
dilumuri cairan yang menggenang di vulva Mbak Murti. Bukit vagina
tertutup bulu kemaluannya yang digunting pendek dan terawat rapih
mengundangku untuk berlama-lama menikmati keindahan ini sambil berpindah
ke posisi 69.

Bertubi-tubi kuluncurkan lidahku, keluar-masuk, naik-turun, sambil
sekali-sekali bersama jariku menggoda sang ‘Dewi Clitoris’. Mulutku tak
hentinya meneguk segarnya air danau senggama ini. Kurasakan otot-otot
Mbak Murti menegang, dan Mbak Murti berteriak dalam ledakan orgasme yang
tak terkendalikan lagi.
“Ooohh.. Hhh.., Daamm.. Ar.. Yess, Yess, Damar..! Aaa.. hh..!”
“Aden..! Ibu Murti kenapa..?” masuklah Narsih tergopoh-gopoh.
Dari kamar mandi, Narsih yang tubuhnya masih basah hanya dibalut handuk,
tampak jelas gemetar menyaksikan pemandangan yang dilihatnya. Seperti
lemas tanpa tulang dia roboh terduduk di sampingku, handuk pembungkus
tubuhnya terlepas.

Sebelum Narsih sempat menyadarinya, aku tarik tubuh janda molek ini.
Tubuhnya terbaring menggelepar ketika aku lampiaskan semua khayalanku
yang selalu berakhir di lembar-lembar tissue selama ini.
“Aden, Aden, Aden..!” hanya itu desahnya.
Kudaratkan rudalku di lembah payudaranya, aku gesekkan ke putingnya,
tampak dia menggelinjang. Lalu aku bangkit tepat di hadapannya, “Den
Damar, kok jadi seperti di pi..” kalimatnya (maksud dia pilem) tidak
selesai karena penisku sudah membungkam mulutnya.

Dengan mata tertutup aku sangat menikmati permainan seruling janda
Sukabumi ini, sampai ketika tiba-tiba alunan nadanya terasa faals.
Ketika aku membuka mata ternyata Mbak Murti yang untuk beberapa saat
tadi KO-lah penyebabnya. Kulihat dari belakang Narsih, satu tangan Mbak
Murti meremas payudara Narsih, sementara satunya lagi mengobok-obok
‘momok’ (Sunda: vagina)-nya. Melihat adegan ini aku memutuskan untuk
istirahat sejenak menjelang final round nanti. Sekarang Narsih lah yang
berjaipong tanpa protes sedikitpun atas iringan degung Juragan Murti.

Gila, semua fantasiku jadi kenyataan, sementara di layar muncul adegan
lesbian, di depan mataku dua perempuan, yang katanya berbeda ‘kelas’
(tapi tak ada batas lagi kan?) beraksi. Mbak Murti tanpa sungkan lagi
langsung menyodorkan clitoris nya ke mulut Narsih yang langsung
melahapnya seakan sedang menikmati jagung bakar di Puncak, tangan Mbak
Murti menuntun tangan Narsih ke payudaranya. Narsih tetap patuh ketika
jemari Mbak Murti menelusuri ‘momok’-nya, tapi segala sesuatu ada
batasnya. Nurani perempuan desa lugu yang lama tak tersentuh lelaki ini
akhirnya bicara.
“Den Damar, saya pingin dirojok pake kontolnya Aden.”
Mbak Murti terhenyak, “Nggak bisa Narsih, saya harus duluan! Nanti kalau
kontol Damar masih bisa ngaceng, baru giliran kamu. Pokoknya nggak bisa,
harus saya duluan!”

Narsih pasrah, “Yah, kalau memang begitu mah, terserah Juragan ajah.”
“Damar, fuck me, now, please..! I want your cock inside my pussy.”
Too good to be true. Penisku yang memang sudah semakin berat di ujungnya
ini segera meluncur ke sasaran pertamanya. Sewaktu penisku mulai masuk
ke dalam, dan memompa Mbak Murti, kulihat Narsih ’sibuk’ sendirian
bermasturbasi. Rupanya tembakanku tepat, bull’s eye! Hanya sebentar aku
menunggangi Juragan kuda binal ini, dia menyerah.
“Damar, aku keluar sekarang. Fuck me, fuck me. Aaa.. ah, yess!”
One down, one to go.

Kali ini aku tak boleh membedakan kedua perempuan itu, mereka harus
mendapatkan apa yang diinginkannya. Perlahan aku memisahkan diri dari
Mbak Murti yang sudah tak berdaya lagi, dan beringsut ke arah Narsih
yang tahu bahwa sekarang gilirannya.
“Den Damar, punten, sayah pingin seperti yang di pilem itu. Dirojok
sembari nungging!”
Edan, dasar janda doyan, kataku dalam hati. Pelan tapi pasti aku tak
ingin mengecewakan PRT Bu De-ku yang setia ini. Ternyata goyang, gitek,
geyol, dan sedotan mojang ini istimewa. Aku hampir kewalahan berjaipong
dengan Narsih, ini harus ditancep seperti wayang golek di batang pisang,
pikirku.

Tanpa peduli lagi, aku pindah versnelling 2.
“Adee.. een, kontol Aden enak, aduh saya kayak terbang, terus tancep Den
Damar. Ampun, Aden, aduh Emak, sayah keenaa.. aakan, Ade.. een..!”
Game is not over, pikirku begitu masih berdiri di belakang Narsih dengan
penis yang sangat keras dan berdenyut-denyut.
“Damar, kamu hebat!” celetuk Mbak Murti, sambil merangkak dia beringsut
mendekatiku lagi.
“Narsih, kesini kamu..!” perintahnya, “Sekarang kita kerjain Damar
berdua, ya. Nanti kalau maninya keluar (”mani itu pejuh, ya Juragan?”
tanya Narsih polos,) kita pakai buat luluran. Maninya lelaki bisa bikin
kulit kita jadi halus.”

Dengan kompak mereka mulai ‘bekerja’. Mbak Murti dengan telaten mengocok
batang penisku, sementara Narsih dengan patuh menjilati kantong bijiku.
Disinilah batasku, aku meledak sejadi-jadinya. Hampir tak mampu lagi
rasanya aku berdiri selagi maniku menyemprot dengan deras, kedua
perempuan itu berusaha keras untuk mencegah ada yang tercecer. Dengan
sungguh-sungguh diulaskannya saripati kelelakianku ke tubuh-tubuh mereka
yang molek itu.

Entah berapa jam kemudian ketika aku terbangun, Mbak Murti tak nampak
lagi disitu. Tapi kulihat Narsih memandangiku tersenyum sambil
membersihkan arena tempat permainan rodeo tadi. Narsih menyerahkan
secarik kertas dari Mbak Narti.
/You are a real Cowboy!/, begitu tulisnya.
Sampai sebelum Pak De dan Bu De kembali, beberapa kali kami mengulang
permainan ini. Setelah mereka pulang, bagaimana? Aku belum tahu, karena
sekarang aku harus pergi menjemput mereka ke Cengkareng.



Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
Random Posts :

Comments are closed.

43 queries 0.631 seconds
Protected by xSeksi